Thursday, 24 May 2018

Korban Bobol Kartu Kredit yang Terima Tagihan hingga Rp 55 Juta

Korban Bobol Kartu Kredit yang Terima Tagihan hingga Rp 55 Juta

Infoht – Jaringan pembobol kartu kredit ditangkap pada Minggu (15/4/2018). Korban Bobol Kartu Kredit yang Terima Tagihan hingga Rp 55 Juta

Korban Bobol Kartu Kredit yang Terima Tagihan hingga Rp 55 Juta

Berbekal data nasabah bank yang mereka beli dari sebuah situs, para pembobol dapat menggunakan kartu kredit nasabah untuk bertransaksi jual beli hingga tarik tunai uang.

Mereka dengan leluasa menggunakan kartu kredit yang tagihannya dikirimkan kepada nasabah resmi. Seorang nasabah yang jadi korban, D, bercerita bahwa ia menerima tagihan kartu kredit hingga Rp 55 juta dalam kurun waktu satu bulan. “Awalnya saya curiga karena ada tagihan telepon datang ke rumah saya.

Padahal saya tidak pernah menggunakan operator telepon tersebut dan tidak pernah membayar tagihan telepon dengan kartu kredit,” ujar D saat dihubungi Infoht.com, Selasa (17/4/2018) malam.

Kecurigaan D bertambah karena biasanya, kalaupun ia menggunakan kartu kredit untuk bertransaksi, ia akan menerima pemberitahuan melalui surat elektronik.

“Saya sudah minta bank atur agar setiap saya transaksi, sistem billing-nya melalui email. Saya tidak pernah mendapatkan email tagihan akhir-akhir ini,” kata dia.

D mengatakan, dalam kurun waktu sebulan, ia tak pernah menggunakan kartu kreditnya. Ia pun heran mengapa ada tagihan yang dialamatkan kepadanya.

“Karena jarang pakai kartu kredit, saya juga enggak tahu waktu itu kartu kredit saya masih bisa digunakan tidak,” ujar D.

Terima Tagihan hingga Rp 55 Juta

Dengan berbagai kecurigaan tersebut, D melaporkan hal ini kepada pihak bank. Sesampainya di bank, ia terkejut saat ditunjukkan daftar tagihannya.

“Saya ditunjukkan oleh petugas kalau nilai transaksi saya sudah Rp 55 juta. Saya enggak pernah pakai padahal,” kata dia.

Setelah ditelusuri, ternyata ada seseorang yang mengaku sebagai D telah mengganti kartu kredit meski masih atas nama D dengan dalih kartu rusak melalui telepon. Namun, alamat pengiriman kartu tak sesuai dengan alamat asli D.

“Bahkan kata petugas, pembobol itu menaikkan limit kartu kredit saya, makanya bisa transaksi banyak,” ujar dia. Beruntung, pihak bank tak meminta D membayar tagihan itu dan segera memblokir kartu kredit D untuk segera diperbaiki.

Adapun jaringan pembobol kartu kredit ini menjalankan aksinya dengan sejumlah modus. Selain membobol kartu kredit korban seperti yang dialami D, pelaku menggunakan modus menelepon nasabah.

Mereka biasanya menginformasikan perbaikan kartu kredit, meminta kode ATP kartu, dan tanggal kedaluwarsa untuk dapat menguasai kartu.

“Kalau saya kebetulan tidak dihubungi pembobol. Jadi yang saya alami yang modus pembobol menelpon ke bank untuk ganti kartu,” ujar D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *